BULETIN AL-FAIDAH EDISI 89 : Toleransi Salah Kaprah

“Selamat hari natal ya!” “Selamat hari natal ya!”  Ucapan yang mungkin sering kita dengar dari seorang muslim kepada tetangganya ataupun temannya yang beragama Nasrani, dan di lain tempat kita mendengar seseorang yang bergelar “kyai” mengisi acara hari natal di gereja. Mendengarnya, sungguh kita sebagai seorang muslim tentu tidak akan rela dengan ucapan dan perbuatan tersebut. Bagaimana tidak? Saat mendengar seorang nasrani berucap “Yesus anak Tuhan”, hampir-hampir langit pecah, bumi terbelah, gunung-gunung hancur, bagaimana mungkin seorang muslim mendukung dan bergembira dengan perayaan-perayaan mereka.

Allah سبحانه وتعالى berfirman, (yang artinya): “Dan mereka berkata ‘Ar-Rahman mempunyai anak’. Sungguh kalian telah mendatangkan suatu perkara yang amat mungkar. Hampir-hampir langit pecah karena ucapan itu, dan bumi belah, dan gunung-gunung runtuh. Karena mereka mendakwa Ar-Rahman mempunyai anak.” (QS. Maryam: 88-91)

Atas dasar toleransi, kebersamaan, kerukunan dan berbagai alasan lainnya merupakan perkara yang sering kita dengar dari mereka yang ikut di dalam perayaan hari raya orang kafir. Lalu bagaimanakah syariat Islam membimbing kita di dalam bermuamalah dengan orang-orang Nasrani, Yahudi dan orang-orang kafir lainnya terkhusus di dalam menyikapi hari raya mereka?

Pembaca Al-Faidah rahimakumullah, Pembaca Al-Faidah rahimakumullah,  Di antara prinsip yang agung di dalam akidah Islam adalah al-wala’ (kecintaan) al-bara’ (berlepas diri dan membenci). Prinsip ini adalah prinsip yang terkandung dalam dua kalimat syahadat, sehingga prinsip ini sangat erat kaitannya dengan masalah akidah.

Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz رحمه اللَّه berkata: “Al-Wala’ wal Bara’ maknanya ialah cinta dan loyal kepada mukminin serta membenci dan memusuhi orang kafir, berlepas diri dari mereka dan agama mereka.” [Majmu’ Fatawa Ibnu Baz, Jilid 5]

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin رحمه اللَّه menerangkan makna dari prinsip al-bara’ adalah berlepas diri dari semua yang Allah سبحانه وتعالى berlepas diri darinya, sebagaimana firman-Nya (yang artinya):“Sungguh telah ada suri tauladan yang baik bagi kalian pada diri Ibrahim dan orang-orang yang bersamanya, ketika mereka berkata kepada kaum mereka.

‘Kami berlepas diri dari kalian dan dari sesembahan kalian yang selain Allah. Kami ingkar kepada kalian dan telah tampak antara kami dan kalian permusuhan dan kebencian selamanya, sampai kalian beriman kepada Allah saja.’”(QS. Al-Mumtahanah: 4)

Jadi, setiap muslim wajib berlepas diri dari semua orang musyrik dan orang kafir. Ini terkait dengan sikap terhadap manusianya. Demikian pula, seorang muslim wajib berlepas diri dari semua amalan yang tidak diridhai oleh Allah سبحانه وتعالى dan Rasul-Nya walaupun amalan tersebut tidak sampai pada kekafiran, seperti perbuatan fasik dan maksiat. Sebagaimana di dalam firman-Nya, (yang atinya): “Akan tetapi, Allah telah membuat cinta kepada kalian iman dan telah menghiasinya di qalbu kalian iman, dan telah membuat hati kalian benci terhadap kekufuran, kefasikan dan maksiat.” (QS. Al-Hujurat: 7)[Majmu’ Fatawa Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin, Bab Al-Wala’ wal Bara’]

Pembaca Al-Faidah rahimakumullah,  Dari penjelasan di atas, bisa kita simpulkan tentang wajibnya bersikap bara’ (berlepas diri dan membenci) orang kafir dan orang musyrik, serta larangan berwala’ (berloyalitas dan cinta) kepada mereka. Lantas, apa bentuk nyata sikap bara’ kita kepada orang kafir? Di antara bentuk sikap bara’ tersebut adalah tidak memberi ucapan selamat atas perayaan hari raya mereka serta tidak ikut merayakan perayaan hari besar mereka. Banyak fatwa ulama Ahlus Sunnah yang menerangkan haramnya memberikan ucapan selamat hari besar orang kafir, apalagi turut serta dalam acara mereka. Jadi, tidak benar toleransi, kerukunan ataupun kebersamaan dijadikan sebagai alasan untuk ikut merayakan perayaan hari besar mereka, memberi ucapan selamat serta segala sesuatu yang berkaitan dengan hari raya mereka. Sikap yang benar bagi seorang muslim di dalam menyikapi hari raya orang kafir adalah meyakini sesatnya hari raya tersebut, tidak mengucapkan selamat hari raya, tidak ikut merayakannya, namun tidak juga mengganggu ibadah mereka.

Hukum Memberikan Ucapan Selamat Natal

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin رحمه اللَّه ditanya tentang hukum mengucapkan selamat natal kepada orang kafir. Dan bagaimana kita menjawab jika mereka mengucapkannya kepada kita? Apakah diperbolehkan pergi ke tempat-tempat yang menyelenggarakan perayaan ini? Apakah seseorang berdosa jika melakukan hal tersebut tanpa disengaja, akan tetapi dilakukan sekadar basa-basi, karena malu, terpaksa, atau sebab yang lain? Apakah diperbolehkan menyerupai mereka dalam hal ini?

Jawaban : Mengucapkan selamat kepada orang-orang kafir dengan ucapan selamat natal atau ucapan-ucapan lainnya terkait dengan perayaan keagamaan mereka telah disepakati keharamannya. Sebagaimana dinukil dari Ibnul Qayyim رحمه اللَّه dalam kitabnya Ahkamu Ahli Adz-Dzimmah, dimana beliau mengatakan:

“Dan adapun ucapan selamat terhadap syi’ar-syi’ar kekufuran secara khusus, maka telah disepakati keharamannya. Misalnya mengucapkan selamat atas hari raya atau puasa mereka dengan mengatakan: ‘Hari raya yang diberkahi bagimu’ atau ‘Selamat merayakan hari raya ini’ dan yang semisalnya. Yang demikian ini, meskipun yang mengucapkannya selamat dari kekufuran, namun perbuatan ini termasuk yang diharamkan. Hal ini sejajar dengan ucapan selamat terhadap sujudnya (seorang nasrani) terhadap salib, bahkan hal ini dosanya lebih besar di sisi Allah, dan lebih besar kemurkaan-Nya daripada ucapan selamat terhadap perbuatan minum khamr, bunuh diri, zina, dan yang lainnya, dan banyak orang yang tidak kokoh agamanya terjerumus ke dalam perbuatan-perbuatan tersebut dan tidak tahu kejelekan perbuatannya. Sehingga barangsiapa yang mengucapkan selamat kepada seorang hamba dengan suatu kemaksiatan, bid’ah, atau kekufuran, maka dia telah mengundang kemurkaan dan kemarahan Allah l.”

Haram hukumnya mengucapkan selamat kepada orang-orang kafir terhadap hari raya agama mereka, sebagaimana yang disebutkan oleh Ibnul Qayyim رحمه اللَّه tersebut, karena padanya terkandung pengakuan terhadap syi’ar-syi’ar kekufuran dan ridha terhadapnya walaupun dia tidak ridha hal itu terjadi pada dirinya sendiri. Walaupun demikian, seorang muslim diharamkan untuk ridha terhadap syi’ar-syi’ar kekufuran atau mengucapkan selamat terhadap syi’ar-syi’ar tersebut, karena Allah سبحانه وتعالى tidak meridhainya, sebagaimana firman Allah, (yang artinya):

“Jika kamu kafir maka sesungguhnya Allah tidak memerlukan (iman)mu dan Dia tidak meridhai kekafiran bagi hambaNya; dan jika kamu bersyukur, niscaya Dia meridhai bagimu kesyukuranmu itu.”(QS. Az-Zumar: 7)

Dan firman Allah سبحانه وتعالى dalam ayat yang lain, (yang artinya):

“Telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu dan telah Kucukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Kuridhai Islam itu jadi agamamu.” (QS. Al-Maidah: 3)

Maka mengucapkan selamat kepada mereka hukumnya haram, sama saja apakah ikut serta dalam pelaksanaannya ataupun tidak. Jika mereka mengucapkan selamat hari raya mereka kepada kita, maka kita tidak perlu menjawabnya, karena itu bukan hari raya kita, dan hari raya itu tidak diridhai oleh Allah سبحانه وتعالى, karena itu merupakan kebid’ahan pada agama mereka atau memang itu disyari’atkan dalam agama mereka akan tetapi sesungguhnya telah dimansukh (dihapus) dengan agama Islam yang Allah سبحانه وتعالى mengutus dengannya Nabi Muhammad صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ untuk semua makhluk. Allah سبحانه وتعالى telah berfirman tentang hal ini, (yang artinya):

“Barangsiapa mencari agama selain dari agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.” (QS. Al- ‘Imran: 85)

Haram pula hukumnya seorang muslim membalas ucapan selamat dari mereka, karena ini lebih besar daripada mengucapkan selamat kepada mereka, disebabkan padanya terdapat unsur keikutsertaannya dalam perayaan tersebut. Demikian juga diharamkan bagi kaum muslimin untuk menyerupai orang-orang kafir dengan mengadakan perayaan-perayaan hari raya, atau tukar-menukar hadiah, membagi-bagikan gula-gula, piring berisi makanan, meliburkan kerja dan yang semisalnya, berdasarkan sabda Nabi صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:

“Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk golongan mereka.” [HR. Abu Dawud]

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah رحمه اللَّه dalam kitabnya Iqtidha’ Ash-Shirath Al-Mustaqim Mukhalafah Ash-Hab Al-Jahim mengatakan:

“Menyerupai mereka dalam sebagian hari raya mereka akan melahirkan kesenangan pada hati mereka dengan kebatilan yang ada padanya, bahkan bisa jadi ambisi mereka dalam perayaan tersebut untuk dijadikan kesempatan dalam menghina dan menyesatkan orang-orang yang lemah.” Barangsiapa melakukan hal-hal tersebut, maka dia berdosa, sama saja apakah dia melakukannya itu sekedar basa-basi atau karena kecintaan padanya, karena malu, atau sebab-sebab yang lainnya, karena ini merupakan sikap menyepelekan agama Allah سبحانه وتعالى dan termasuk sebab mantapnya jiwa orang-orang kafir dan bangganya mereka terhadap agamanya. Hanya kepada Allah-lah kita meminta permohonan, agar Dia memuliakan kaum muslimin dengan agama mereka, dan menganugerahi kekokohan serta menolong dari musuh-musuh mereka. Sesungguhnya Allah Maha Kuat lagi Maha Perkasa.

[Majmu’ Fatawa Wa Rasa’il III/44 Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin]

Wallahu a’lam bish-shawaab

Disusun oleh : Al-Ustadz Abu Rufaidhah Yahya حفظه الله

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *