BULETIN AL-FAIDAH EDISI 88 : Cinta Rasul صلى اللّه عليه و سلّم

(النَّبِيُّ أَوْلَىٰ بِالْمُؤْمِنِينَ مِنْ أَنْفُسِهِمْ (الأحزاب: ٦

Artinya: “Nabi itu, lebih utama bagi orang-orang mukmin dari (pada) diri-diri mereka sendiri.” (QS. Al-Ahzab: 6)

TAFSIR AYAT
Seorang ahli tafsir bernama Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’diy rahimahullah, di dalam kitab tafsirnya Taisirul Kariimir Rahman halaman 659, cetakan maktabah An-Nubala’, menafsirkan ayat yang mulia di atas:

“Wajib atas seorang mukmin, apabila terjadi pertentangan (antara) keinginannya atau (antara) keinginan seseorang di antara manusia (seluruhnya) dengan (apa) yang diinginkan (dikehendaki) oleh Rasulullah, (maka) dia mendahulukan (apa yang menjadi) keinginan Rasulullah. Dan (dia) tidaklah membenturkan ucapan Rasulullah (Al-Hadits) dengan ucapan (pendapat) seseorang, siapapun dia serta apapun statusnya. Dan mereka (orang-orang mukmin) akan menebus (membela) Rasulullah dengan jiwa-jiwa mereka, harta-harta mereka dan anak-anak mereka.
Dan mereka (orang-orang mukmin) mendahulukan kecintaan kepada Rasulullah melebihi kecintaan mereka di atas seluruh makhluk. Dan mereka tidak berucap sampai Rasulullah berbicara (lebih dahulu). Dan mereka tidak mendahulukan pendapat (ucapan) mereka di atas pendapat (ucapan) Rasulullah.” [Taisir Al-Kariim Ar-Rahman, hal: 659]

HUKUM MENCINTAI RASULULLAH shalallahu’alaihiwasallam
Dari tafsiran ayat yang mulia di atas, dapat dipahami bahwa mencintai Nabi shalallahu’alaihiwasallam merupakan perkara yang wajib. Dan hendaklah derajat kecintaan kepada Beliau shalallahu’alaihiwasallam haruslah melebihi derajat kecintaan seseorang atas seluruh makhluk yang ada di muka bumi, baik itu terhadap dirinya sendiri, kedua orang tuanya, suaminya, istrinya, anak-anaknya, karib kerabatnya, seluruh harta benda yang dimilikinya, ataupun yang lainnya. Kedudukan Nabi shalallahu’alaihiwasallam lebih diutamakan di atas seluruh makhluk yang ada.

Dikatakan oleh Al-Imam Abul Fadhl Syihabuddin Al-Alusy Al-Baghdaady rahimahullah:

“ Nabi shalallahu’alaihiwasallam tidaklah memerintahkan sesuatu dan tidak ridha pada umatnya kecuali jika (hal tersebut) terdapat (padanya) kemaslahatan dan mendatangkan keselamatan bagi mereka. Berbeda dengan jiwa-jiwa mereka sendiri, (yang mana) jiwa-jiwa tersebut selalu mengajak pada keburukan.” [Ruuh Al-Ma’ani: 16/24]

Dan datang kisah tentang shahabat ‘Umar Ibnul Khaththab radhiyallahu’anhu dalam hadits yang diriwayatkan oleh Al-Imam Bukhary dari shahabat ‘Abdullah Bin Hisyam radhiyallahu’anhu berkata :

كُنَّا مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ آخِدٌ بِيَدِ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ، فَقَالَ لَهُ عُمَرُ: يَا رَسُوْلَ اللَّهِ، لَأَنْتَ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ إِلاَّ مِنْ نَفْسِي. فَقَالَ لَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لاَ وَالَّذِي نَفْسِيْ بِيَدِهِ، حَتَّى أَكُوْنَ أَحَبَّ إِلَيْكَ مِنْ نَفْسِكَ. فَقَالَ لَهُ عَمَرُ: فَإِنَّهُ اْلآنَ، وَاللَّهِ، لِأَنْتَ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ نَفْسِي. فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اْلآنَ يَا عُمَرُ
( صحيح البخاري :6632 )

Artinya : “Dahulu kami bersama Nabi shalallahu’alaihiwasallam, dan Beliau shalallahu’alaihiwasallam menggandeng tangan ‘Umar Ibnul Khaththab radhiyallahu’anhu. Kemudian ‘Umar berkata kepada Nabi shalallahu’alaihiwasallam: Wahai Rasulullah, sungguh engkau lebih aku cintai melebihi apa pun, kecuali (kepada) diriku. Maka Nabi shalallahu’alaihiwasallam menjawab: Tidak (wahai ‘Umar), demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, hingga aku lebih engkau cintai melebihi dirimu sendiri. Lalu ‘Umar berkata kepada Beliau shalallahu’alaihiwasallam: Sungguh sekarang, demi Allah, engkau lebih aku cintai melebihi diriku sendiri. Maka Nabi shalallahu’alaihiwasallam bersabda: ‘Sekarang (engkau benar), wahai ‘Umar.” [Shahih Al-Bukhari: 6632]

Di Antara yang Diperoleh Seorang Mukmin dengan Mencintai Rasulullah shalallahu’alaihiwasallam adalah:

1. Mendapatkan manisnya iman

Dari Anas Bin Malik radhiyallahu’anhu, bahwa Nabi shalallahu’alaihiwasallam bersabda:

ثَلَاثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ بِهِنَّ حَلَاوَةَ الْإِيمَانِ أَنْ يَكُونَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لَا يُحِبُّهُ إِلَّا لِلَّهِ وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِي الْكُفْرِ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِي النَّارِ
( متفق عليه )

Artinya: “Tiga perkara yang apabila terkumpul pada seseorang akan mendapatkan manisnya iman yaitu: Allah dan Rasul-Nya lebih dicintainya dari selain keduanya; mencintai saudaranya hanya karena Allah; dan benci kembali pada kekufuran sebagaimana benci dilemparkan dalam api.” [HR. Muttafaqun ‘alaihi]

2. Berkumpul bersama Beliau shalallahu’alaihiwasallam di akhirat kelak

Dari Anas Bin Malik radhiyallahu’anhu beliau mengatakan: “Bahwa seseorang bertanya kepada Nabi shalallahu’alaihiwasallam, “Kapan terjadi hari kiamat, wahai Rasulullah?” Beliau shalallahu’alaihiwasallam berkata: “Apa yang telah engkau persiapkan untuk menghadapinya?” Orang tersebut menjawab, “Aku tidaklah mempersiapkan untuk menghadapi hari tersebut dengan banyak shalat, banyak puasa dan banyak sedekah. Tetapi yang aku persiapkan adalah cinta Allah dan Rasul-Nya.” Beliau shalallahu’alaihiwasallam berkata :

أَنْتَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ

“(Kalau begitu) engkau akan (dikumpulkan) bersama dengan orang yang engkau cintai.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim]

3. Memperoleh kesempurnaan iman

Beliau shalallahu’alaihiwasallam bersabda:

لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَلَدِهِ وَوَالِدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ

“Tidaklah beriman salah seorang di antara kalian sampai aku lebih dicintainya dari pada anaknya, orang tuanya serta manusia seluruhnya.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim]

Di antara Bentuk-bentuk Sikap Sebagai Bukti Kecintaan kepada Rasulullah shalallahu’alaihiwasallam adalah:

1. Pengagungan kepada Rasulullah shalallahu’alaihiwasallam dengan mendahulukan dan mengutamakan Beliau shalallahu’alaihiwasallam dari siapapun.
Di antara bentuk mendahulukan dan mengutamakan Nabi shalallahu’alaihiwasallam dari siapa pun adalah apabila pendapat ulama, kyai, atau ustadz yang menjadi panutannya, bertentangan dengan hadits Nabi shalallahu’alaihiwasallam, maka yang didahulukan adalah pendapat Nabi shalallahu’alaihiwasallam. Sebagaimana yang dijelaskan oleh Imam Asy-Syafi’i rahimahullah, “Kaum muslimin telah sepakat bahwa siapa saja yang telah jelas baginya ajaran Rasulullah shalallahu’alaihiwasallam, maka tidak halal baginya untuk meninggalkannya karena (mengikuti) perkataan (pendapat) yang lainnya.” [I’lamul Muwaqi’in ‘an Robbil ‘Alamin – Ibnu Al-Qoyyim Al-Jauziyyah : 1/7]

2. Ittiba’ (mencontoh) Nabi shalallahu’alaihiwasallam dalam seluruh aspek kehidupan beliau, baik dalam perkara ibadah maupun muamalah, berpegang teguh dengan ajarannya, serta kokoh di atas prinsip-prinsip yang diajarkan oleh Beliau shalallahu’alaihiwasallam, serta mencukupkan diri dengan syariat yang telah dibimbing oleh nya dengan tidak menambah ataupun menguranginya

Allah subhanahuwata’ala berfirman:

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ

“Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah akan menyayangi kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian.” (QS. Al-Imran: 31)

3. Membela serta menolong Beliau shalallahu’alaihiwasallam

Di antara salah satu tanda kecintaan dan pengagungan kepada Beliau shalallahu’alaihiwasallam adalah dengan membela dan menolong Beliau shalallahu’alaihiwasallam.

لِلْفُقَرَاءِ الْمُهَاجِرِينَ الَّذِينَ أُخْرِجُوا مِنْ دِيَارِهِمْ وَأَمْوَالِهِمْ يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانًا وَيَنْصُرُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ أُولَئِكَ هُمُ الصَّادِقُونَ

“(Juga) bagi orang-orang fakir dari kalangan muhajirin yang diusir dari kampung halaman mereka dan dari harta benda mereka (karena) mencari karunia dari Allah dan keridhaan-Nya dan mereka menolong Allah dan Rasul-Nya. Mereka itulah orang-orang yang benar.” (QS. Al-Hasyr: 8)

Sekelumit Kisah Kecintaan Para Shahabat Kepada Rasulullah shalallahu’alaihiwasallam
Pada perang Uhud, pasukan pemanah kaum Muslimin yang diperintahkan untuk tidak turun dari posnya, mereka turun untuk mengambil ghanimah bersama pasukan Muslimin lainnya. Akan tetapi hal ini menyebabkan pasukan musyrikin mampu menguasai medan peperangan dan mengepung dari depan dan belakang. Dan terbunuhlah puluhan kaum Muslimin. Dan tersebar kabar dusta bahwa Rasulullah shalallahu’alaihiwasallam telah wafat.”

Rupanya kabar wafatnya Rasulullah shalallahu’alaihiwasallam tercium sampai ke kota Madinah yang merupakan pusat pemerintahan pada waktu itu. Dan ketika sebagian pasukan (yang pulang dari perang Uhud) telah memasuki kota Madinah, mereka dihadang oleh seorang wanita dari Bani Dinar. Dan dikabarkan kepadanya bahwa suaminya, saudaranya dan bapaknya telah gugur di perang Uhud. Akan tetapi wanita tersebut malah bertanya: “Bagaimana keadaan Rasulullah?” Maka pasukan menjawab: “Beliau baik-baik saja wahai Ummu Fulan, walhamdulillah. Seperti yang anda harapkan“. Maka wanita tersebut mengatakan: “Setiap musibah selama Rasulullah selamat, adalah ringan.” [Ar-Rahiiqu Al-Makhtum: 257]

Kaum Muslimin rahimakumullah,
Demikianlah sedikit yang dapat kami sampaikan, sungguh masih banyak hal yang tidak dapat kami sajikan pada tulisan ini dikarenakan keterbatasan ruang yang ada. Namun, telah banyak riwayat yang datang dari para shahabat Nabi shalallahu’alaihiwasallam tentang betapa besarnya cinta mereka kepada Rasulullah shalallahu’alaihiwasallam, akan tetapi tidak satupun didapati mereka (para shahabat) memperingati hari kelahiran Beliau shalallahu’alaihiwasallam, baik ketika Beliau shalallahu’alaihiwasallam masih hidup maupun setelah wafatnya Beliau shalallahu’alaihiwasallam. Jika memperingati hari kelahiran Beliau merupakan salah satu bentuk kecintaan kepada Rasulullah, tentulah pasti para shahabat telah mendahului kita dalam memperingati hari tersebut.
Wallahu ‘alam bish-shawaab
Oleh:
Al-Akh Abu Sa’ud Luqman حفظه الله

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *