BULETIN AL-FAIDAH EDISI 87 : Peduli Terhadap Tetangga, Perantara Menuju Surga

Fenomena kehidupan bertetangga selalu berubah seiring dengan bergulirnya zaman. Suasana sosial yang sesuai kaidah syariat Islam semakin sulit didapatkan, apalagi hidup di lingkungan perkotaan. Pada umumnya manusia cenderung dan asyik dengan urusan masing-masing.

Di pagi hari, masing-masing pihak bersiap untuk menuju tempat aktivitasnya, kemudian pulang di waktu sore harinya. Begitulah seterusnya, tak terasa setiap orang seolah menutup diri, saling tidak mengenal, yang pada akhirnya melahirkan sikap individualistis “acuh” terhadap kondisi tetangganya.

Sikap individualistis “acuh” mengakibatkan masing-masing pihak merasa tidak dilindungi antara satu dengan lainnya. Bila ada sebuah keluarga kecurian atau kerampokan atau tindak kriminal lainnya, terkadang pihak tetangganya merasa tidak mengetahuinya. Kalaupun mengetahui, terkadang pula bingung apa yang harus dia bantu atau ia perbuat.

Di sisi lain, tidak jarang terjadi interaksi aktif antara satu dengan yang lainnya. Namun sayang terkadang (baca: banyak) interaksi itu bersifat negatif yang merugikan pihak lain, baik dari tutur kata yang buruk, tingkah laku yang jelek atau hal lainnya yang dapat mengganggu pihak lain. Bahkan, tega berbuat zalim (menganiaya) dan memeras pihak lain. Fenomena ini bukanlah sekadar wacana belaka, bahkan anda bisa melihat dan merasakannya sendiri.

ISLAM RAHMAT BAGI SEMESTA ALAM

Islam adalah agama yang Allah sempurnakan, yang mencakup dan menjawab seluruh permasalahan umat manusia dengan tepat dan sempurna, termasuk di dalamnya adab-adab dalam bertetangga. Hal ini telah diabadikan di dalam Al-Quran, sebagaimana firman-Nya (yang artinya):

“Pada hari ini Aku sempurnakan Islam sebagai agama bagi kalian, dan Aku lengkapkan pula nikmat-Ku atas kalian, serta Aku ridha Islam menjadi agama kailan.” (QS. Al-Maidah: 3)

Para pembaca rahimakumullah,
Demikianlah ikrar penegasan dari sang Khaliq (Pencipta) Allah l tentang kesempurnaan ajaran-ajaran yang dibawa oleh Rasul-Nya. Sehingga ajaran Islam, bila dipelajari oleh umatnya kemudian dipraktikkan niscaya akan mendatangkan kedamaian dan ketentraman, baik sesama umat Islam maupun umat-umat lainnya serta seluruh alam semesta ini. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman (yang artinya):

“Dan tiadalah Kami mengutus kamu melainkan sebagai rahmat bagi semesta alam.” (QS. Al-Anbiya: 107)

Demikian pula, Nabi Muhammad shalallahu’alaihi wa sallam diutus ke muka bumi dalam rangka untuk memperbaiki dan menyempurnakan akhlak manusia. Rasulullah shalallahu’alaihi wa sallam bersabda:

“Dan sungguh aku diutus (sebagai seorang rasul -pent) dalam rangka untuk menyempurnakan akhlak manusia.” [HR. Al-Bukhari di dalam Al-Adabul Mufrad no. 273]

WASIAT ISLAM

Para pembaca rahimakumullah,
Ketahuilah permasalahan “tetangga” bukanlah hal yang remeh, bahkan sangat diperhitungkan di dalam agama Islam. Terlebih lagi, Islam mewasiatkan untuk selalu menjaga dan memuliakan tetangga. Simaklah firman Allah subhanahu wa ta’ala (yang artinya):

“Sembahlah Allah dan janganlah kalian mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun, dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang miskin, tetangga dekat maupun tetangga jauh, teman sejawat, ibnu sabil (orang yang mengadakan perjalanan) dan hamba sahaya. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri.” (QS. An-Nisa: 36)

Di dalam ayat yang mulia ini, terdapat perintah dari Allah subhanahu wa ta’ala untuk berbuat baik kepada tetangga dan Allah subhanahu wa ta’ala membenci sifat sombong dan tidak mau peduli dengan keadaan tetangganya.

Demikian pula, Nabi Muhammad shalallahu’alaihi wa sallam senantiasa mendapatkan wasiat dari malaikat Jibril alaihis sallam tentang perihal tetangga. Sebagaimana sabda Beliau shalallahu’alaihi wa sallam:

“Senantiasa Jibril memberikan wasiat kapadaku perihal tetangga, sampai aku mengira bahwa tetangga juga berhak mendapatkan harta waris.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim]

KEUTAMAAN MEMULIAKAN TETANGGA DAN ANCAMAN MENGGANGGU TETANGGA

Para pembaca rahimakumullah,
Telah kita ketahui bersama, bahwa peduli dengan tetangga merupakan perkara yang urgen di dalam Islam. Sehingga Islam juga memberikan kedudukan mulia bagi orang yang memuliakan tetangganya. Dan sebaliknya, Islam memberikan ancaman keras terhadap siapa saja yang tidak mau peduli dengannya.
Berikut ini akan disebutkan beberapa keutamaan memuliakan tetangga beserta ancaman yang melalaikannya. Di antaranya adalah:

a. Wasilah meraih iman yang sempurna

“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari kiamat maka janganlah ia menggangu tetangganya.”
[HR. Al-Bukhari dan Muslim]

Bisa disimpulkan dari hadits di atas, bahwa perbuatan buruk terhadap tetangga dapat mengurangi nilai iman dia kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan hari kiamat. Bila ia menyakini perbuatan mengganggu tetangga adalah halal (boleh), maka bisa menyebabkan batalnya nilai iman dia secara total (kufur).

b. Menjadi sebaik-baik tetangga di sisi Allah

“Sebaik-baik teman di sisi Allah adalah orang yang paling baik terhadap temannya, dan sebaik-baik tetangga di sisi Allah adalah orang yang paling baik terhadap tetangganya.” [HR. At-Tirmidzi]

c. Wasilah untuk meraih Al-Jannah (Surga)
Rasulullah shalallahu’alaihi wa sallam bersabda:

“Tidak akan masuk Al-Jannah, barangsiapa yang tetangganya tidak merasa aman dari gangguannya. [HR. Muslim]

Begitu juga di dalam riwayat Al-Bukhari, Rasulullah shalallahu’alaihi wa sallam bersumpah: “Tidaklah beriman kepada Allah (sebanyak tiga kali).” Salah seorang sahabatnya bertanya: “Siapa itu wahai Rasulullah? Beliau menjawab: “Barangsiapa yang tetangganya tidak merasa aman dari gangguannya.”
Sungguh ada seorang wanita di zaman Rasulullah shalallahu’alaihi wa sallam yang rajin shalat malam dan shaum di siang harinya, namun tetangganya tidak merasa aman dari kejelekan lisannya. Kabar itupun terdengar oleh Rasulullah shalallahu’alaihi wa sallam, maka Beliau bersabda:

“Tidak ada kebaikan bagi dirinya. Dan ia kelak masuk dalam An-Naar (neraka).” [HR. Al-Bukhari di dalam Al-Adabul Mufrad no. 119]

APA YANG HARUS KITA PERBUAT?

Islam sangat peduli dengan keberadaan tetangga. Sehingga seharusnya seorang muslim harus peka dan tanggap dengan kondisi tetangganya. Bila tetangganya membutuhkan atau memerlukan sesuatu, seharusnya ia tanggap untuk murah tangan kepadanya sesuai kemampuannya tanpa diminta. Pintunya selalu terbuka bagi siapa saja yang perlu dan butuh darinya.

Konsekuensi dari berbuat baik kepada tetangga adalah tidak berbuat atau bertindak semena-mena yang menyebabkan tetangga itu merasa terganggu atau teraniaya. Sehingga membutuhkan kejelian dan kehati-hatian dari masing-masing pihak untuk tidak berkata dan berbuat kecuali setelah dipertimbangkan dengan matang antara maslahat dan mudharatnya.

Sahabat Ibnu Umar radhiyallahu’anhum berkata:

“Telah datang kepada kita suatu zaman, dimana dahulu tidak ada seorang pun yang mengutamakan dinar dan dirhamnya (jenis mata uang -pen) dibandingkan saudaranya muslim, namun sekarang dinar dan dirham lebih kita cintai dibanding saudaranya yang muslim. Padahal aku mendengar Rasulullah shalallahu’alaihi wa sallam bersabda:

“Betapa banyak kelak pada hari kiamat seseorang yang nasibnya bergantung dengan tetangganya. Ia berkata kepada Rabb-nya: “Yaa Rabb-ku, orang ini telah menutup pintu bagiku, sehingga mencegahnya untuk berbuat baik.” [HR. Al-Bukhari di dalam Al-Adabul Mufrad no. 111]

Ada beberapa contoh hubungan bertetangga yang telah dicontohkan di masa Rasulullah shalallahu’alaihi wa sallam, dan para sahabatnya, sebagaimana hadits-hadits berikut ini:

1. Aisyah radhiyallahu ‘anha bertanya kepada Rasulullah shalallahu’alaihi wa sallam: “Yaa Rasulullah! Sesungguhnya aku memilki dua tetangga. Mana yang paling berhak untuk aku berikan hadiah?” Rasulullah menjawab: “Pintu yang paling dekat denganmu.” [HR. Al-Bukhari di dalam Al-Adabul Mufrad no. 107]

2. Sahabat Abu Dzar radhiyallahu ‘anha meriwayatkan dari Rasulullah, Beliau shalallahu’alaihi wa sallam bersabda:

“Wahai Abu Dzar, bila engkau memasak maka perbanyaklah kuahnya, kemudian engkau bagikan kepada tetanggamu.” [HR. Muslim]

Rasulullah shalallahu’alaihi wa sallam juga bersabda:

“Tidaklah beriman seseorang, bila ia dalam keadaan kenyang sementara tetangganya kelaparan.” [HR. Al-Bukhari di dalam Al-Adabul Mufrad no. 112]

3. Sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anha juga meriwayatkan dari Rasulullah shalallahu’alaihi wa sallam :

“Tidaklah pantas seseorang menghalangi bagi tetangganya untuk menumpangkan kayu/papan pada dinding rumahnya”. [HR. Al-Bukhari dan Muslim]

Telah datang pula riwayat dari sahabat Abdullah bin Amr radhiyallahu ‘anha. Ketika putranya menyembelih seekor kambing dan ingin membagikan kepada tetangganya, maka beliau menyuruhnya untuk memulai dari tetangga yang beragama Yahudi. Tiba-tiba ada seseorang yang mengingkarinya. Maka beliau berkata:

“Sesungguhnya aku mendengar Rasulullah senantiasa mendapat wasiat (dari Jibril) tentang tetangga, sampai dikhawatirkan tetangga juga berhak mendapatkan harta waris.”[HR. Al-Bukhari di dalam Al-Adabul Mufrad no. 128]

Sehingga Islam telah memberikan pengajaran tentang sikap yang harus dimiliki oleh setiap umat Nabi Muhammad shalallahu’alaihi wa sallam untuk selalu tanggap dan peduli dengan tetangganya, walaupun ia seorang kafir.
Akhir kata, mudah-mudahan nasihat ini dapat menggugah kaum muslimin untuk peduli dengan tetangganya, Aamiin ya Rabbal ‘alamin.
Oleh: Tim Kontributor Al-Faidah
Sumber:mahad-assalafy.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *