BULETIN AL-FAIDAH EDISI 86 : Jual Beli Kredit

 

وَأَحَلَ اللهُ البَيعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا

“Dan sesungguhnya Allah menghalalkan jual beli serta mengharamkan riba.” (QS. Al-Baqarah: 275)

Pembaca yang dirahmati Allah subhanahu wa ta’ala,
Sesungguhnya ayat di atas menjelaskan bahwa hukum asal jual beli adalah halal, maka atas dasar itu segala bentuk jual beli hukum asalnya halal sampai ada dalil yang menunjukkan keharamannya. Maka pada kesempatan kali ini, kami akan menjelaskan satu dari sekian jenis jual beli yang telah mendarah-daging di kalangan umat manusia yang dikenal dengan jual beli kredit.

DALIL HUKUM JUAL BELI KREDIT

Disebutkan oleh para ulama bahwa jual beli kredit hukumnya mubah (boleh) berdasarkan firman Allah subhanahu wa ta’ala:

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ إِذَاتَدَايَنتُم بِدَينٍ إِلَى أَجَلٍ مُّسَمًّى فَاكتُبُوهُ

“Wahai orang-orang yang beriman, jika kalian saling bermuamalah dengan sistem hutang dengan batasan waktu tertentu maka hendaklah kalian tulis.” (QS. Al-Baqarah: 282)

Namun dalam hal ini perlu diperhatikan beberapa hal, di antaranya adalah:

1. Tidak berdosa orang yang menjual secara kredit untuk mengambil keuntungan yang lebih banyak dari penjualan yang dilakukan secara kontan. Misalnya, jika dia menjual secara kontan maka harga jualnya adalah Rp 100.000,00 namun jika secara kredit harga jualnya menjadi Rp 130.000,00. Dalil yang menunjukkan bolehnya perkara ini adalah kisah pembelian seekor unta oleh shahabat Abdullah bin Amr bin Ash dengan cara hutang untuk kemudian dibayar dengan 2 ekor unta berdasarkan perintah Rasulullah shalallahu’alaihi wa sallam untuk mempersiapkan tunggangan yang dibutuhkan dalam jihad ketika itu. [HR. Abu Dawud no. 2913]

2. Dilarang bagi sang penjual untuk menjual dengan sistem kredit, sesuatu yang masih belum dia miliki untuk kemudian dia membelinya dari toko lain dan setelah itu baru diserahkan kepada sang pembeli. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah shalallahu’alaihi wa sallam :

لا تبع ما ليس عندك

“Janganlah engkau menjual sesuatu yang tidak engkau miliki.” [HR. Ahmad dan Tirmidzi serta yang lainnya]

Maka yang seharusnya dilakukan oleh sang penjual adalah dia harus mendapatkan/memiliki terlebih dahulu barang yang hendak dia jual.

3. Dilarang bagi seorang penjual untuk menjual barang dagangannya di tempat (toko) yang dia mengambil (membeli) barang dagangan tersebut. Dalil atas perkara tersebut adalah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Abu Daud rahimahullah,

أنه نهى أن تبا ع السلعة حيث تبتا ع حتى يحوز ها التجار إلى رحالهم

“Sesungguhnya Rasulullah shalallahu’alaihi wa sallam melarang penjualan barang yang dilakukan di tempat (toko) barang tersebut dibeli sampai sang pedagang tersebut membawa barang tersebut ke rumahnya.”

4. Dilarang bagi seorang penjual untuk mengkreditkan barang dagangannya dengan menerapkan sistem denda jika sang pembeli telat membayar cicilan, karena hal ini termasuk ke dalam jenis riba yang dilakukan di masa jahiliyah yang dikenal juga dengan istilah nasiah. Bersabda Rasulullah shalallahu’alaihi wa sallam,

أَلاَ إِنَّمَا الرِّبَا فِيْ النَّسِيْئَةِ

“Ketahuilah, bahwa riba itu ada pada nasiah.” [HR. Muslim]

Begitu pula ketika sang pembeli misalnya mencicil secara disiplin sehingga tidak sampai terjadi denda, maka hal ini pun terlarang, karena akad yang dilakukan di awal perjanjian tersebut mengandung kesepakatan riba (yaitu adanya denda ketika telat dalam pembayaran). Maka yang perlu diketahui oleh sang penjual, jika dia ingin merasa tenang dari kekhawatiran menunggaknya cicilan sang pembeli, dipersilakan baginya untuk mencari jalan lain yang halal, yaitu dengan meminta sistem gadai (tentunya dengan tanpa ada bunga) kepada sang pembeli.

5. Dilarangnya pembayaran angsuran/ cicilan kepada lembaga pembiayaan (leasing) yang menalangi setiap motor/ mobil yang dicicil nasabah, bukan ke dealer (penjual). Hal itu karena motor/ mobil yang dikreditkan oleh dealer telah dibayar tunai oleh lembaga pembiayaan tersebut. Artinya, pembeli sebenarnya dihutangi secara tidak langsung oleh lembaga pembiayaan tersebut agar bisa membeli motor/ mobil yang diinginkan. Kemudian pembeli membayar hutang itu kepadanya dengan nilai lebih besar (harga cicilan). Ini adalah rekayasa riba yang dikenal dengan istilah ‘inah model tiga pihak.

Sisi keharamannya adalah ketika leasing tersebut pada hakikatnya hanya memberi pinjaman kepada sang pembeli sebenarnya, untuk kemudian sang pembeli tersebut membayar angsuran kepada leasing, tentunya telah kita ketahui bersama bahwa seseorang yang memberi pinjaman dilarang untuk mengambil keuntungan sedikit pun karena hal tersebut bagian dari riba.

Jika ada yang mengatakan bahwa leasing tersebut pihak yang membeli motor/ mobil, bukankah dia (leasing tersebut) berhak untuk menjual secara kredit?

Maka di sini kita katakan bahwa leasing tersebut pada hakikatnya bukan pembeli sebenarnya dari dealer dan bukan pula penjual sebenarnya kepada konsumen. Terbukti jika terjadi musibah berupa kecelakaan atau kehilangan motor/ mobil, ketika dalam proses pengantaran tentu pihak leasing tidak mau bertanggung jawab (di sini kita tidak berbicara permasalahan asuransi), padahal konsekuensi dari penjual hakiki, dia akan bertanggung jawab dengan kondisi tersebut.

Pembaca yang dirahmati Allah subhanahu wa ta’ala,
Tentunya di sini, penulis mengingatkan bahaya dan dosa riba yang tidak bisa dipandang sebelah mata. Telah menjadi kesepakatan para ulama bahwa riba termasuk dosa besar yang bisa menjerumuskan pelakunya ke dalam kebinasaan. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman dalam Al-Quran:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَذَرُوا مَا بَقِيَ مِنَ الرِّبَا إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ (٢٧٨) فَإِن لَّمْ تَفْعَلُوا فَأْذَنُوا بِحَرْبٍ مِّنَ اللهِ وَرَسُولِهِ ۖ … (٢٧٩)

”Wahai orang-orang yang beriman bertaqwalah kalian kepada Allah dan tinggalkanlah apa-apa yang tersisa dari perbuatan riba tersebut jika kalian benar-benar beriman. Maka jika kalian tidak meninggalkannya maka umumkanlah peperangan terhadap Allah dan Rasul-Nya.” (QS. Al-Baqarah: 278-279)

Telah jelas dalam ayat ini Allah subhanahu wa ta’ala menyebutkan bahwa pelaku riba pada hakikatnya telah menabuh genderang perang melawan Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya. Adakah seorang hamba yang lemah dan kecil ini siap berperang dengan Rabb nya?

Bukankah Rasulullah shalallahu’alaihi wa sallam juga telah melaknat pelaku riba dalam beberapa haditsnya? Tidak sadarkah dia (pelaku riba), bahwa dirinya yang lemah tersebut sangat butuh terhadap pertolongan dan rahmat-Nya? Lantas dengan alasan apa dia dengan lancangnya menantang Allah dan Rasul-Nya hanya demi sedikit meraih keinginan duniawinya yang begitu hina.

Perlu pembaca ketahui bahwa ketika seorang hamba berusaha bertaqwa kepada Allah subhanahu wa ta’ala, maka Dia tidak akan menelantarkan dan menyia-nyiakan, sungguh Allah subhanahu wa ta’ala berfirman dalam Al-Quran:

‏‏ …وَمَن يَتَّقِ اللهَ يَجْعَل لَّهُ مَخْرَجًا (٢) وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَايَحْتَسِبُ وَمَن يَتَوَكَّلْ عَلَى اللهِ فَهُوَ حَسْبُهُ…(٣)

“Dan barang siapa yang bertaqwa kepada Allah sungguh Allah akan beri dia jalan keluar dan memberinya rizqi dari arah yang tak terduga, dan barang siapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupinya.” (QS. At-Talaq: 2-3 )

Pembaca yang dirahmati Allah subhanahu wa ta’ala,
Mudah-mudahan keterangan yang ringkas ini bermanfat bagi kita semua dan dapat membuka mata serta hati orang-orang yang masih bergelimangan dengan sistem jual beli yang mengandung unsur keharaman.

وصلى الله على نبينا محمد وعلى آل محمد صحبه وسلم
وآخر دعوانا أن الحمدلله رب العلمين

Oleh:
Al-Ustadz Abu Muhammad Musa hafizhahullah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *