BULETIN AL-FAIDAH EDISI 84 : Melihat Allah di Hari Kiamat

Bersabda Nabi shalallahu’alaihi wa sallam :

“Maka tidak ada perkara yang diberikan kepada mereka (ahli surga) lebih mereka cintai daripada melihat Rabb mereka, kemudian beliau membacakan ayat:

لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا الْحُسْنَى وَزِيَادَةٌ  ( يونس : 26 )

“bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya (yaitu kenikmatan melihat Allah subhanahu wa ta’ala).” ” (QS. Yunus: 26)
[HR. Muslim]

Pembaca Al-Faidah yang dirahmati Allah subhanahu wa ta’ala,

    Merupakan Aqidah Ahlussunnah wal jama’ah yaitu meyakini bahwa kaum mukminin akan melihat Allah b dengan mata kepala mereka di hari kiamat, dan ini merupakan Ijma’ para Ulama terdahulu sebagaimana akan kami sampaikan beberapa ucapan Mereka rahimahumullah tentang hal ini.

Adapun melihat Allah subhanahu wa ta’ala di dunia dalam keadaan  terjaga,  maka  para  ulama telah menjelaskan  bahwasanya  hal  tersebut tidak  pernah  terjadi,  dan  hal  ini  juga berdasarkan  hadits  Nabi shalallahu’alaihi wa sallam dari  Abu Umamah radhiyallahu ‘anhu :

وَأَنَّكُمْ لَنْ تَرَوْا رَبَّكُمْ تَبَارَكَ وَتَعَالَى حَتَّى تَمُوتُوا  [رواه أَحمد و ابن ماجه و الطبراني]

“Dan  sesungguhnya  kalian  tidak  akan pernah  melihat  Rabb  kalian subhanahu wa ta’ala sampai kalian  mati.”

[HR. Ahmad 5/325, Ibnu Majah no. 4.077, At-Thabrani no. 2.906]

Dan  ketika  Abu  Dzar  bertanya  kepada Rasulullah shalallahu’alaihi wa sallam:

“Apakah engkau melihat Rabb mu?  Beliau menjawab: Cahaya yang sungguh aku melihatnya.”

[HR. Muslim no. 178]

    Adapun  dalil-dalil  yang menunjukan bahwa kaum  mukminin melihat Allah subhanahu wa ta’ala di hari kiamat telah mencapai mutawatir (sangat banyak), dan Insya Allah akan kami sampaikan sebagiannya. Di antara dalil-dalilnya yaitu:

1.    Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ نَاضِرَةٌ * إِلَى رَبِّهَا نَاظِرَةٌ  (القيامة: 23-22)

Yang artinya, “Wajah-wajah (orang-orang mukmin) pada hari itu berseri-seri. Kepada Rabb nya mereka melihat.”

(QS. Al-Qiyamah: 22-23)

2.   Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا الْحُسْنَى وَزِيَادَةٌ  [ يونس : 26 ]

Yang artinya,“Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya  (yaitu kenikmatan melihat Allah.”

(QS. Yunus: 26)

Rasulullah shalallahu’alaihi wa sallam telah menafsirkan sendiri ayat di atas, dan Beliau shalallahu’alaihi wa sallam bersabda:

“Apabila telah masuk penghuni surga ke dalam surga, berkata Allah subhanahu wa ta’ala: ‘Apakah kalian menginginkan sesuatu yang Aku tambahkan kepada kalian?’  Maka mereka mejawab: ‘Bukankah Engkau telah memutihkan wajah-wajah kami, dan bukankah Engkau telah memasukkan kami ke surga dan menyelamatkan kami dari Api Neraka?  Beliau shalallahu’alaihi wa sallam berkata: Maka dibukakanlah tabir penutup,  maka tidak ada perkara yang diberikan kepada mereka (ahli surga) lebih mereka cintai daripada melihat Rabb nya, kemudian Beliau shalallahu’alaihi wa sallam membacakan ayat:

لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا الْحُسْنَى وَزِيَادَةٌ

Yang artinya, “Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya (yaitu kenikmatan melihat Allah subhanahu wa ta’ala).” (QS. Yunus: 26)

[HR. Muslim no. 181]

3.   Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

(15 : المطففين)كَلآ إِنَّهُمْ عَنْ رَّبِّهِم يَوْمَئِذٍ لَّمَحْجُوبُونَ

Yang artinya,“Sekali-kali tidak, sesungguhnya  mereka (orang kafir) pada hari itu benar-benar tertutup dari Rabb mereka.”

(QS. Al-Muthaffifiin: 15)

Berkata Muhammad bin Idris (Al-Imam As-Syafi’i ) rahimahullah menafsirkan ayat di atas: Ayat ini merupakan dalil bahwa para kaum mukminin, mereka melihat Allah subhanahu wa ta’ala saat itu. [Tafsir Ibnu Katsir 8/351]

1.   Nabi shalallahu’alaihi wa sallam bersabda:

Dari Jarir bin ‘Abdillah berkata: ‘Rasulullah shalallahu’alaihi wa sallam keluar kepada kami pada malam bulan purnama, kemudian berkata’:

 “Sesunguhnya kalian akan melihat Rabb kalian pada hari kiamat seperti kalian melihat ini (bulan purnama), yaitu kalian tidak berdesakan dalam melihatnya.”

[HR. Bukhari]

Dalam riwayat lain dari Abu Hurairah berkata, berkata Rasulullah shalallahu’alaihi wa sallam :

“Apakah kalian berdesakan ketika melihat bulan di malam purnama? Mereka menjawab: Tidak. Beliau berkata: Maka begitu pula kalian tidak berdesakan dalam melihat Rabb kalian pada hari Kiamat.”

[HR. Ibnu Majah]

Berkata Ahmad bin ‘Ashim Abu Muhammad Al-Anthaki: Berdesakannya manusia terjadi ketika awal bulan karena untuk mencari hilal, maka mereka berkumpul dan berdesakan satu dengan yang lainya. (selesai)

Berbeda dengan apabila bulan di malam purnama, maka mereka melihatnya tidak berdesakan karena mereka tidak mencari hilal saat itu.

Dan Rasulullah shalallahu’alaihi wa sallam mengumpamakan kaum mukminin yang tidak berdesakan ketika melihat Rabb nya, sebagaimana mereka tidak berdesakan ketika melihat bulan purnama.

2.   Dalam hadits lain disebutkan:
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa manusia (sahabat) bertanya :

“Ya Rasulullah, Apakah kami akan melihat Rabb kami pada hari kiamat? Maka Rasulullah shalallahu’alaihi wa sallam bersabda: Apakah kalian saling berebut (memadharatkan yang lain) (ketika melihat) bulan di malam purnama? Mereka menjawab: Tidak Ya Rasulallah. Apakah kalian saling berebut (ketika melihat) matahari (saat) tidak ada awan di bawahnya? Mereka menjawab : Tidak Ya Rasulallah. Beliau bekata: Maka sesungguhnya kalian akan melihat Rabb kalian seperti itu pula (tidak saling berebut).”

[HR. Bukhari]

Pembaca Al-Faidah rahimakumullah
Berikut ini perkataan para Ulama yang menegaskan bahwa kaum mukminin akan melihat Allah subhanahu wa ta’ala di hari kiamat. Di antara perkataan-perkataan tersebut adalah:

1.  Berkata Imam Malik (179H)

Manusia (kaum mukminin) mereka melihat Allah subhanahu wa ta’ala pada hari kiamat dengan mata kepala mereka sendiri.

2.  Berkata Imam Syafi’i (204H)

Ayat ini (Al-Muthaffifin: 15) merupakan dalil bahwa para kaum mukminin mereka melihat Allah subhanahu wa ta’ala saat itu (di akhirat).

3.  Berkata Imam Ahmad (241H)

Telah sampai kepadanya bahwa seseorang berkata: Bahwa Allah subhanahu wa ta’ala tidak terlihat pada hari kiamat. Maka beliau pun sangat marah dan berkata: Barangsiapa mengatakan bahwa Allah tidak terlihat pada hari kiamat, maka dia telah kufur dan baginya laknat Allah dan kemurkaan-Nya dan dari manusia, bukankah Allah berfirman, yang artinya:

“Wajah-wajah (orang-orang mukmin) pada hari itu berseri-seri, kepada Rabb nya mereka melihat.”

(QS. Al-Qiyamah: 22-23)

Dan juga berfirman dalam ayat yang lain, yang artinya:

“Sekali-kali tidak, sesungguhnya mereka pada hari itu benar-benar tertutup dari Rabb mereka.”

(QS. Al-Muthaffifiin: 15)

Ini merupakan dalil bahwa kaum mukminin melihat Rabb mereka.

4. Berkata Muhammad bin Yahya Adz-Dzuhli (258H) (Guru Imam Bukhari):

Beliau ditanya tentang lafazh hadits  “هل رأيت الله“ apakah engkau melihat Allah? (ini pertanyaan sahabat kepada Nabi.pent) maka berkata (penanya): Tidak sepantasnya bagi seseorang melihat Allah subhanahu wa ta’ala. Maka Beliau menjawab :

“Hal ini (apabila) di dunia, maka adapun di akhirat sesungguhnya penduduk surga, mereka melihat Allah subhanahu wa ta’ala dengan mata kepala mereka.”

5. Berkata Abu Zur’ah Ar-Razi (264H) dan Abu Hatim Ar-Razi (277H):

Kami telah bertemu dengan para Ulama di seluruh negeri baik di Hijaz, Iraq, Syam, dan juga Yaman , maka madzhab (aqidah) mereka adalah….….. Kemudian menyebutkan beberapa hal di antaranya:

“….dan bahwasanya Allah subhanahu wa ta’ala dilihat pada hari kiamat, akan melihat-Nya penduduk surga dengan mata kepala mereka dan mendengar ucapan Allah subhanahu wa ta’ala sebagaimana yang Allah subhanahu wa ta’ala kehendaki dan seperti hal yang Allah subhanahu wa ta’ala kehendaki.”

6.  Berkata Ibnu Jarir At-Thabari (310H):

“Dan sesungguhnya kaum mukminin akan melihat Rabb mereka pada hari kiamat dengan mata kepala mereka, sebagaimana melihat matahari tidak ada awan di bawahnya dan seperti melihat bulan di malam purnama berdasarkan ucapan Nabi shalallahu’alaihi wa sallam.”

Pembaca Al-Faidah yang kami hormati,
Dalil-dalil dan perkataan para ulama tentang bab ini terlalu melimpah untuk kami tuangkan di lembaran kecil ini, untuk itu kami cukupkan penjelasan ini, mudah-mudahan tulisan ini bermanfaat dan menjadi pengingat akan agungnya Aqidah ini.
Wallahu a’lam bishshawab

Oleh: Al-Ustadz Sirojudin Abbas hafizhahullah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *