BULETIN AL-FAIDAH EDISI 83 : Humaira Belahan Jiwa Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam

Pembaca Buletin Al-Faidah rahimakumullah,

Figur kali ini bukanlah wanita biasa. Seorang wanita yang memiliki ketulusan hati yang begitu menawan. Membicarakannya ibarat menguntai butir-butir mutiara, lantaran pribadinya yang sarat keutamaan. Beliau tampak istimewa di antara segenap kaum hawa. Tak heran, demikian berarti pula kedudukannya di hati Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam.

KEHARUMAN NAMANYA

Dia adalah putri Abu Bakar Ash-Shiddiq yang Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam lebih suka memanggilnya “Humaira” (putih kemerahan). ‘Aisyah binti Abu Bakar Abdullah bin Abi Kuhafah berasal dari keturunan mulia suku Quraisy. Ibunya adalah Ummu Ruman bintu ‘Amir al-Kinaniyyah. Keharuman namanya terukir indah dalam sejarah. Berparas jelita, berkulit putih, hingga disebut untuknya panggilan al-Humaira.

TAHUN KELAHIRANNYA

‘Aisyah radhiyallahu ‘anha dilahirkan sekitar tujuh tahun sebelum hijrah. Beliau delapan tahun lebih muda dari Fathimah putri Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau radhiyallahu ‘anha tumbuh dalam naungan cahaya Islam dan tarbiyah yang lurus. Masa kanak-kanak bersama ayahanda, kemudian beralih dalam bimbingan Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam.

PERNIKAHAN AISYAH -radhiyallahu ‘anha-

Suatu hari, beberapa belas bulan sebelum peristiwa hijrah, di saat usianya enam tahun,  gadis cerdas  ini dipersunting oleh manusia termulia Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam berdasarkan perintah Allah subhanahu wa ta’ala melalui wahyu dalam mimpi beliau. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam mengisahkan mimpi beliau kepada ‘Aisyah:

”Aku melihatmu dalam mimpiku selama tiga malam, ketika itu datang bersamamu malaikat yang berkata: ini adalah istrimu. Lalu aku singkap tirai yang menyembunyikan wajahmu , lalu aku berkata sesungguhnya hal itu telah ditetapkan di sisi Allah.”

[Muttafaqun ‘alaihi dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha ]

    Inilah wahyu yang datang dari sisi Allah subhanahu wa ta’ala. Meski telah menjadi istri, namun beliau masih menjalani hari-hari bersama ayah bundanya. ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha juga turut berhijrah bersama keduanya.
Tiga tahun berselang, di kota Madinah, sekembalinya Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam dari perang Badr. Ketika itu ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha yang menapaki usia 9 tahun sedang bermain ayunan layaknya anak-anak seusianya. Beliau pun didatangi sekelompok wanita yang kemudian mendandani dan mempersiapkan ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha untuk suatu hal yang istimewa. Hari itu adalah hari bertemunya beliau dengan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam. Itu pula saatnya memasuki mahligai rumah tangga bersamanya.

KEHIDUPAN RUMAH TANGGANYA

Mereka mengarungi bahtera kehidupan rumah tangga yang diliputi suasana Nubuwwah. Di rumah kecil yang disamping masjid itu memancarkan kedamaian dan kebahagiaan walaupun tanpa permadani indah dan gemerlap lampu, yang ada hanyalah tikar kulit bersih sabut dan lentera kecil berminyak samin (minyak hewan).

Dijalaninya suka duka kehidupan bersama kekasihnya dengan ketulusan hati. Begitu patuh, jauh dari sikap menuntut, dan tidak manja. Kefakiran dan rasa lapar dilaluinya dengan kesabaran, sampai pun tatkala api di dapurnya tak menyala dalam hari-hari yang panjang. Hanya ada kurma dan air. Selama sembilan tahun berikutnya, ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha mendampingi sang suami sebagai sebaik-baik istri.

Banyak kisah yang menggambarkan keindahan akhlak seorang istri pada dirinya. Terselip padanya hal-hal yang menyenangkan hati Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam, di antara berat dan payahnya perjalanan dakwah. Bersama sang Permaisuri, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam pernah tertawa sampai tampak gigi-gigi geraham beliau. Pernah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam berlomba lari dengan istri beliau ini, terulang hingga dua kali. Pernah pula beliau shalallahu ‘alaihi wa sallam mengajak sang istri menyaksikan permainan tombak yang diperagakan oleh orang-orang Habasyah di masjid.

Beliau shalallahu ‘alaihi wa sallam sangat mengenal ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, sampai-sampai beliau shalallahu ‘alaihi wa sallam tahu kapan ‘Aisyah ridha terhadapnya dan kapan pula sebaliknya. Tidaklah istri yang shalihah ini marah terhadap suaminya, melainkan hanya dengan meninggalkan sebutan namanya. “Tidak, demi Rabb Muhammad!”, ini ucapan ketika ‘Aisyah ridha. Dan, “Tidak, demi Rabb Ibrahim!”, kalimat yang muncul kala sang Humaira’ sedang marah.

DI ANTARA KEUTAMAAN AISYAH -radhiyallahu ‘anha-

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam pernah menyampaikan salam dari Malaikat Jibril untuk wanita mulia ini, “Wahai ‘Aisy, ini Jibril, dia menyampaikan salam kepadamu.”

Di antara kelebihan beliau yang lainnya, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam memilih untuk dirawat di rumah ‘Aisyah dalam sakit menjelang wafatnya. Hingga akhirnya Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam wafat di pangkuan ‘Aisyah dan dimakamkan dirumahnya tanpa meninggalkan harta sedikitpun. Ketika itu ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha berusia 18 tahun. Sepeninggal Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Aisyah mengisi hari-harinya dengan mengajarkan Al-Qur’an dan Hadits dibalik hijab bagi kaum muslimin pada masanya.

Sisa usia yang masih panjang, beliau habiskan sebagai Ummul Mukminin dengan penuh keteladanan. Kemuliaan demi kemuliaan terkumpul apik pada dirinya.

Pembaca buletin Al-Faidah rahimakumullah,

‘Aisyah radhiyallahu ‘anha adalah seorang yang sering berpuasa, selain juga gemar bersedekah. Suatu ketika beliau radhiyallahu ‘anha pernah mendapatkan uang sebesar seratus ribu dirham. Sore harinya, seluruh uang itu telah disedekahkan. Tatkala meminta sesuatu untuk berbuka, berkatalah pembantu wanitanya, “Wahai Ummul Mukminin, tidakkah engkau membeli daging untuk kita dengan satu dirham saja? “‘Aisyah tersadar,” Jangan engkau menegurku, seandainya tadi engkau mengingatkanku niscaya akan kulakukan.”

Pernah pula, ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha menyedekah kan uang sebesar tujuh puluh ribu dirham kepada kaum muslimin. Bersamaan dengan itu, beliau sendiri membutuhkan nya dan terdapat tambalan pada pakaiannya.
Begitulah beliau yang tidak gelisah dengan kefakiran dan tidak menyalahgunakan kekayaan, kezuhudan nya terhadap dunia menambah kemuliaannya.‘Aisyah radhiyallahu ‘anha juga melalui hari-harinya dengan siraman ilmu dari Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam, sehingga ribuan hadist beliau hafal.

Aisyah radhiyallahu ‘anha juga ahli dalam ilmu faraid (warisan dan ilmu obat-obatan). Urmah bin Jubair putra Asma binti Abu Bakar bertanya kepada Aisyah radhiyallahu ‘anha : ”Wahai bibi, dari mana bibi mempelajari ilmu kesehatan?” ‘Aisyah menjawab : ”Ketika aku sakit, orang lain mengobatiku, dan ketika orang lain sakit aku pun mengobatinya dengan sesuatu. Selain itu, aku mendengar dari orang lain, lalu aku menghafalnya.”

Kehidupannya sarat dengan nuansa ilmu. Beliau mengajarkan ilmu yang dimilikinya. Demikian pula para penuntut ilmu banyak belajar dan bertanya padanya. Berkata Abu Musa al-’Asy’ari radhiyallahu ‘anhu, “Tidaklah terjadi satu saja permasalahan yang rumit bagi kami, para shahabat Muhammad, lalu kami menanyakannya kepada ‘Aisyah, kecuali kami mendapati ilmu tentang hal itu di sisinya.”

WAFATNYA AISYAH -radhiyallahu ‘anha-

Menjelang wafatnya, datanglah Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhu. Semula ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha enggan menerimanya karena tak ingin mendengar pujian darinya. Hingga akhirnya, Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhu masuk lalu menyampaikan sanjungannya sebagai kabar gembira tentang keutamaan ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha. Tatkala Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhu telah pergi dan datang Ibnu Zubair radhiyallahu ‘anhu setelahnya, berkatalah wanita mulia ini, “Ibnu ‘Abbas datang dan menyanjungku, padahal aku ingin agar diriku menjadi sesuatu yang tidak berarti, lagi dilupakan.”

Tepat pada tahun 57 H, beliau radhiyallahu ‘anha wafat pada usia 63 tahun lebih di masa khalifah Marwan bin ‘Abdil Malik. Wanita mulia ini meninggal pada malam 17 Ramadhan dan dikebumikan di pekuburan Baqi’.

Sungguh benar Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam yang bersabda tentangnya, “Keutamaan ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha atas seluruh wanita bagaikan keutamaan tsarid atas seluruh makanan.“ Tsarid adalah makanan lezat dari adonan tepung yang dicampur kuah daging, terkadang disertakan pula dagingnya.

Duhai Al-Humaira, belahan jiwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam.

Wallahu a’lam bish shawab

Tim Kontributor Al-Faidah

Referensi : – Salafy.or.id > kewanitaan
– mahad-assalafy.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *