BULETIN AL-FAIDAH EDISI 82 : Ada Apa Dengan Bulan Safar?

Bulan Shafar merupakan bulan setelah Muharram, yaitu bulan kedua dalam kalender Hijriyyah. Adapun sebab penamaannya dengan bulan Shafar, maka sebagian mengatakan bahwa dinamakan dengan bulan Shafar karena orang-orang Arab sering meninggalkan rumah mereka pada bulan ini menjadi kosong karena melakukan peperangan dan menuntut pembalasan atas musuh-musuh mereka. Shafar dalam bahasa Arab diartikan kosong.

BULAN SHAFAR DAN KEPERCAYAAN JAHILIYAH
Pada masa jahiliyah, sebagian besar masyarakat Arab mempunyai keyakinan bahwa bulan Shafar adalah bulan sial, maka Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam menepis keyakinan-keyakinan bathil ini dengan sabda Beliau,

لاَ عَدْوَى وَلاَ صَفَرَ وَلاَ هَامَةَ

“Tidak ada penularan penyakit (dengan sendirinya), tidak ada (kesialan) pada bulan Shafar, tidak ada (kesialan) pada burung hantu.”  [HR. Bukhari & Muslim]

    Makna لاَ صَفَرَ dalam hadits di atas di antara penafsirannya adalah bulan Shafar, yang dimaksud di sini (menurut penafsiran sebagian ulama) adalah bahwasannya orang-orang Arab jahiliyah dahulu yang mereka bertasyaa’um (menganggap sial) bulan Shafar dan mereka mengatakan bahwa bulan Shafar adalah bulan sial, maka Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam membatalkan keyakinan tersebut. [Ibnu Rajab dalam Lathaa’if al-Ma’arif hal. 74 Daar ibnu Hazm]
Berkata Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah,
“Pada hakikatnya, suatu zaman tidak ada padanya pengaruh terhadap takdir Allah, maka bulan Shafar sebagaimana bulan yang lainnya ditakdirkan padanya kebaikan dan keburukan.” [Majmu’ Fatawa Ibnu ‘Utsaimin 2/113-115]
Berkata Al-Imam Ibnu Rajab Al-Hambali rahimahullah, “Adapun mengkhususkan tasyaa’um (menganggap sial) dengan suatu zaman tanpa zaman yang lain seperti bulan Shafar dan yang selainnya, maka tidak benar. Dan sesungguhnya semua zaman adalah ciptaan Allah subhanahu wa ta’ala dan di dalamnya terdapat perbuatan anak Adam. Setiap zaman yang seseorang menyibukkan diri padanya dengan ketaatan kepada Allah subhanahu wa ta’ala, maka zaman tersebut diberkahi padanya dan setiap zaman yang seorang hamba menyibukkan diri dengan kemaksiatan, maka akan ada kesialan padanya. Kesialan pada hakikatnya adalah bermaksiat kepada Allah subhanahu wa ta’ala.” [Lathaif al-Ma’arif hal. 75-76]

MENGANGGAP SIAL BULAN SHAFAR MERUPAKAN WARISAN JAHILIYAH
Menganggap bulan Shafar sebagai bulan sial sebenarnya merupakan warisan dari adat istiadat para penyembah berhala sekaligus pelaku kesyirikan. Segala kesyirikan tersebut telah diberantas dengan agama tauhid yang dibawa oleh Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam. Berikut penjelasan para ulama sunnah tentang permasalahan ini.
Suatu pertanyaan telah diajukan kepada Al-Lajnah Ad-Daaimah lil Buhuts Ilmiyah wal Ifta’ (Komite tetap riset ilmiyah dan fatwa kerajaan Saudi Arabia)
Pertanyaan: Sesungguhnya kami mendengar tentang keyakinan-keyakinan bahwa pada bulan Shafar tidak boleh melakukan pernikahan, khitan atau semisalnya. Kami memohon penjelasan dalam permasalahan tersebut sesuai bimbingan syariat islam, semoga Allah menjaga Anda sekalian. [Fatwa No. 10.775]
Jawab: Keyakinan tersebut, yaitu tidak boleh melakukan pernikahan, khitan, atau semisalnya pada bulan Shafar merupakan salah satu bentuk perbuatan menganggap sial bulan tersebut. Perbuatan menganggap sial bulan tertentu, hari tertentu, burung, dan hewan tertentu lainnya merupakan perbuatan yang tidak boleh berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Tidak ada penularan penyakit (dengan sendirinya), tidak ada thiyaroh tidak ada kesialan pada burung hantu, tidak ada kesialan pada bulan Shafar.” [HR Bukhari 5437, Muslim 2220]

Menganggap sial bulan Shafar sekaligus termasuk jenis tathayyur yang dilarang. Hal itu termasuk amalan jahiliyah yang telah dibatalkan oleh islam.
Al-Lajnah Ad-Daimah lil Buhutsil Ilmiyah wal Ifta
Ketua   : As-Syaikh Abdul Aziz Bin Abdillah Bin Baaz
Wakil     : As-Syaikh Abdirrazaq

AMALAN-AMALAN BID’AH DAN KHURAFAT PADA BULAN SHAFAR
Para pembaca sekalian, dalam beribadah dan menyikapi apapun, umat Islam diwajibkan untuk mengikuti Al-Qur’an dan Sunnah yang dibimbingkan oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam. Amal ibadah yang tidak diperintahkan oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam tidak akan diterima oleh Allah subhanahu wa ta’ala alias tertolak.

مَنْ أَحْدَثَ فِى أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ

“Barangsiapa membuat suatu perkara baru dalam agama kami ini yang tidak ada asalnya, maka perkara tersebut tertolak.” [HR. Bukhari & Muslim]

مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

“Barangsiapa yang melakukan amalan yang bukan ajaran kami maka amalan tersebut tertolak.” [HR. Muslim]

 Termasuk amalan bid’ah dan khurafat yang banyak dilakukan sebagian masyarakat adalah pada bulan Shafar.
Di beberapa daerah Indonesia, banyak di antara kaum muslimin di bulan Shafar ini melakukan berbagai perbuatan yang berkaitan tentang ritual keagamaan yang bid’ah. Di antara perbuatan bid’ah yang dilakukan sebagian kaum muslimin di bulan Shafar karena dianggap sial antara lain:
1. Shalat sunnah muthlaq disertai pembacaan doa tolak bala.
2. Mengadakan selamatan tolak bala kampung, biasanya disertai dengan menulis rajah di atas piring kemudian dibilas dengan air, seterusnya dicampur dengan air di dalam drum supaya bisa dibagi-bagikan kepada orang banyak untuk diminum.
3. Melakukan mandi Shafar untuk membuang sial.
4. Tidak akan melakukan perjalanan atau berpergian jauh serta mengadakan pernikahan di bulan Shafar.
5. Di sebagian kalangan suku Jawa, dalam rangka menyambut hari rabu (Arba Wekasan) biasanya mereka melakukan tradisi dengan membuat kue apem dari beras, kue tersebut kemudian dibagi-bagikan kepada tetangga. Ini dimaksudkan sebagai sedekah dan tentu saja untuk menolak bala. Hal ini menurut mereka karena ada hadits Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam yang menyatakan bahwa sedekah dapat menolak bala.
6. Selain itu di kalangan masyarakat Banjar, ada anggapan bahwa bayi yang dilahirkan pada hari Rabu bulan Shafar disyaratkan untuk ditimbang dengan bermacam-macam kue tradisional untuk disedekahkan yang sebelumnya dibacakan doa selamat. Apabila bayi yang lahir pada hari Rabu bulan Shafar tersebut tidak dilakukan upacara penimbangan, maka dikhawatirkan kelak setelah besar bayi tersebut akan menjadi anak yang nakal dan sulit diatur.
Itulah beberapa amalan bid’ah dan khurafat di bulan Shafar yang biasa dilakukan masyarakat, mungkin di sana masih banyak amalan-amalan lain yang tidak cukup untuk disebutkan pada buletin yang singkat ini.

KEWAJIBAN BAGI SEORANG HAMBA UNTUK MEREALISASIKAN TAUHID DAN MENJAUHI SYIRIK
Para pembaca yang dimuliakan oleh Allah subhanahu wa ta’ala, sesungguhnya perkara paling Allah wajibkan bagi seorang hamba adalah merealisasikan tauhid dan menjauhi syirik, karena tauhid merupakan pondasi agama Islam yang tidak diterima amalan seorang hamba kecuali dengannya, sementara syirik akan menyebabkan gugurnya amal seseorang.
Keyakinan bahwa bulan Shafar adalah bulan sial merupakan perkara khurafat yang sangat bertentangan dengan tauhid dan termasuk syirik dalam keyakinan. Sesungguhnya nasib seseorang baik ataupun buruk tidak ada kaitannya dengan bulan tertentu, ataupun pergerakan hewan tertentu, semuanya telah tercatat dalam catatan taqdir Allah,

مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي أَنْفُسِكُمْ إِلَّا فِي كِتَابٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَبْرَأَهَا ۚ إِنَّ ذَٰلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ

“Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan tidak pula pada diri kalian melainkan telah tertulis dalam kitab (lauhul mahfudz) sebelum kami menciptakannya, sesungguhnya yang demikian sangat mudah bagi kami.” (QS. Al-Hadid: 22)

Seorang mukmin hendaknya bertawakkal hanya kepada Allah subhanahu wa ta’ala sebagaimana yang diperintahkan oleh Allah:

وَعَلَى اللَّهِ فَتَوَكَّلُوا إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ

“Dan hanya kepada Allah sajalah hendaknya kalian bertawakkal apabila kalian beriman.” (QS. Al Maidah: 23)

    Sikap tawakkal kepada Allah merupakan ciri dari kaum mukminin yang sejati yang Allah sebutkan dalam Alqur’an

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَعَلَىٰ رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah, gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya keimanan mereka bertambah, dan hanya kepada Rabblah mereka bertawakal.”
(QS. Al-Anfal: 2)

    Para pembaca yang dimuliakan Allah subhanahu wa ta’ala, nasihat sebagai penutup dari tulisan ini, hendaknya seorang muslim mempelajari ilmu syar’i, terutama yang berkaitan dengan aqidah dan tauhid, karena itu merupakan bekal dan pegangan bagi seorang hamba dalam menjalani kehidupan agar tidak tersesat di dunia dan tidak sengsara di akhirat. Sementara orang-orang yang berpaling dari agama dan tidak mau sama sekali mempelajarinya maka mereka akan tersesat di dunia dan akan sengsara di akhirat.
Semoga Allah melindungi kita dari berbagai kesesatan dan penyimpangan dari agama.
وصلى الله على محمد وعلى اله وصحبه وسلم

Oleh: Al-Ustadz Abu Dawud Al-Medany     p

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *